Kepik emas (Aspidomorpha tecta) adalah salah satu binatang yang sangat mengagumkan yang berasal dari asia tenggara. Termasuk dalam Filum Arthropoda, Kelas Insekta, Ordo Coleoptera, Keluarga Chrysomelidae. Hewan ini biasanya dijumpai pada tumbuhan kangkung-kangkungan (Ipomea sp.) yang banyak tumbuh di pematang sawah. Di Yogyakarta sendiri keberadaan kepik emas sudah mulai langka. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya habitat si kepik karena pemekaran wilayah kota yang semakin lama menggusur kawasan pertanian.
Salah satu yang masih tersisa berada di daerah barat kota yogyakarta yaitu di Kecamatan Seyegan Sleman. Daerah ini masih didominasi oleh lingkungan persawahan yang luas. Cukup menyenangkan ngelayap di daerah ini, selain udaranya yang masih segar juga pemandangannya yang indah (ditambah adanya kepik emas tentunya ;)). Bentang alam daerah Seyegan berupa tanah datar yang digunakan sebagai areal persawahan dan sedikit berbukit. Salah satu yang menarik adalah adanya bukit-bukit yang terisolir di tengah-tengah persawahan menciptakan pemandangan yang unik dan menarik.
Lalu apa hubungannya dengan kepik emas? hehe nggak tau yang jelas sepanjang pematang sawah di daerah Seyegan ini banyak sekali tumbuh tanaman kangkung-kangkungan yang menjadi habitat dari kepik emas. Selain kepik emas, pada tanaman kangkung-kangkungan ini juga menjadi habitat kepik lainnya seperti Aspidomorpha miliaris (yang sering kusebut dengan kepik perak karena warnanya putih), walang sangit dan binatang-binatang yang tidak dibahas lainnya..
Sampai berapa lama ya Kepik-kepik tersebut bisa bertahan dari pembangunan...
hmm.. moga-moga anak cucu, cicit & c*c*t kita masih bisa melihatnya secara langsung..
tidak dari buku sejarah biologi...
Lalu apa hubungannya dengan kepik emas? hehe nggak tau yang jelas sepanjang pematang sawah di daerah Seyegan ini banyak sekali tumbuh tanaman kangkung-kangkungan yang menjadi habitat dari kepik emas. Selain kepik emas, pada tanaman kangkung-kangkungan ini juga menjadi habitat kepik lainnya seperti Aspidomorpha miliaris (yang sering kusebut dengan kepik perak karena warnanya putih), walang sangit dan binatang-binatang yang tidak dibahas lainnya..
Sampai berapa lama ya Kepik-kepik tersebut bisa bertahan dari pembangunan...
hmm.. moga-moga anak cucu, cicit & c*c*t kita masih bisa melihatnya secara langsung..
tidak dari buku sejarah biologi...




7 Komentar:
Wah belum tau klo di Sleman ada kepik emas
padahal saya orang Jogja ^_^
wah setuju mas!!!...lestarikan kepik emas....dulu dpan rumah saya banyak kepik kayak gitu...
*foto kepiknya sibh banget mas...tapi kayaknya fokusnya bergeser ke daunnya malahan...semoga berkenan..........
Hasil Tangkapan Yang bagus tu pren... laku nggak ya kira 2 dijual mumpung harga Mas lagi mahal... oh walah...ngomong opo iki nggak nyambung "pet"
hahaha.. waktu aku kecil si kepik emas itu sering dijadiin anting2 maenan..
Setiap spesies betapapun kecilnya tetap sangat berharga untuk dilindungi. Seperti kepik emas ini. Kalau spesies ini hilang, nanti kita tahunya cuma si kepik abu aja dong.... (emangnya Cinderella...) huehehe....
[annosmile] hehe sekarang udah tahu khan.. ikutan njaga yah..
[ridho] iya tuh.. waktu motret anginnya kenceng bgt.. daunnya goyang goyang.. jadi gak fokus dech..
[bayu] +| no komenx ah...
[ifa] heheh dijadiin bros juga.. tapi bisa eek..
[yari NK] iya tuh.. eh tapi kok bisa nyampe sinderela?
wuihh... bagus nian itu kepik emas.
sampai sekarang saya tak pernah melihatnya secara langsung, di tempat saya (kalsel) kok tidak pernah terlihat yg macam itu ya? padahal saya juga dulu sering main di sawah. Apa karena iklimnya yg kurang cocok ya?
Poskan Komentar zzz